Rastafaria, Kisah Pembebasan
Pada hari kelahirannya, 6 Februari 1945, DVD tentang Bob Marley berjudul Spiritual Journey layak ditonton.
Pada upacara kematiannya, reggae menjadi doa. Ketika peti mati kayu itu diturunkan di Bandara Kingston, Jamaika, Mei 1981, ribuan anak muda telah menunggu. Perdana Menteri Jamaika bahkan hadir pada misa arwah. Sebagai salam terakhir, seluruh kerabat, anak, dan istrinya memainkan musik reggae dan berdansa. Itulah detikdetik pemakaman Bob Marley yang dapat kita lihat dalam film Spiritual Journey karya Ray Santilli.
Dokumentasi ini melacak ulang perjalanan musikal dan ”keimanan” Marley dengan melakukan serangkaian wawancara sutradara dengan temanteman masa kecil Marley, ibu, anakanaknya, para musisi reggae, dan bekas Perdana Menteri Jamaika.
”Marley hanya memikirkan musik,” kata sang ibu, Cedella Booker. Kelompok reggae pertama Marley adalah Rude Boys, lalu The Wailers. Secara musikal, Marley bertolak dari musik tradisional Jamaika: ska. Bedanya, Marley memperlambat tempo ska. Lagulagu Marley kemudian menguasai radio Jamaika. Namun, musik ini baru meniti panggung internasional ketika Chriss Blackwell dari Island Record merekamnya. Dari sinilah Marley menonjok London, Inggris.
Orang tua Marley penganut Katolik. Namun, Marley memeluk kepercayaan unik yang disebut Rastafari. Ini sikap religi yang memistifikasi Haile Sellassie, pemimpin karismatik Ethiopia yang akhirnya dikudeta oleh militer dan wafat pada tahun 1975. Sellassie naik takhta pada tahun 1930. Ia menjadi penengah berbagai perang saudara yang melanda Afrika. Ia membantu perdamaian Nigeria. Pidatonya di PBB tentang kolonialisme Eropa di Afrika sangat terkenal.
Tahun 1920an, Marcus Garvey, aktivis politik gerakan Black Christian, meramalkan akan muncul seorang mesiah dari Afrika. Garvey, kelahiran St Anne Bay, Jamaika, adalah pendiri Universal Negro Improvement Association, sebuah organisasi yang menyerukan kebangkitan Afrika. Ia memandang Afrika sebagai tanah yang teraniaya dan melihat Yesus akan bangkit dari kalangan hitam. Yesus adalah black man of sorrows dan Maria adalah black Madonna. Berpegang secara literal pada Mazmur 68 : 32, Ethiopia bersegera mengulurkan tangannya kepada Allah, ia percaya mesiah akan muncul dari Ethiopia.
Marley percaya Sellassie adalah mesiah yang dinubuatkan Garvey. Saat Sellassie mengunjungi Jamaika, April 1966, Marley makin yakin bahwa Sellassie penjelmaan Kristus. Lagulagu Marley sesungguhnya banyak dirembesi sikap ini. Lagu terkenalnya, Exodus, misalnya, merefleksikan Mazmur 137 yang berbicara tentang tanah yang dijanjikan: Zion, Yerusalem. Bagi Marley, Yerusalem sekarang adalah Ethiopia. Dan Babilonia kini adalah metafor kolonialis. ”And Babylon kingdom must fall… for all the European propaganda…”
Sellassie sesungguhnya tak menginginkan dirinya dikultuskan. Ia mengirim Bishop Abuna Yasehaq ke Jamaika untuk mendirikan gereja dan mewartakan bahwa Yesus yang harus tetap diimani, bukan dirinya. Bob Marley dekat dengan Yasehaq, meski ia menolak masuk gereja.
Dan lagulagu Marley tetap membawa kabar Ethiopia sebagai tanah harapan. Simbol cinta Tuhan kepada mereka yang teraniaya. Amsal penebusan, penyelamatan dunia ketiga. Simak Redemption Song yang terkenal itu: ”..Emancipate yourselves from mental slavery. How long shall they kill our prophet, while we stand aside and look?” Atau lagu Jammin: We’re jammin, no bullet can stop us now, Yeh! Holy Mount Zion, Jah sit in Mount Zion. And rules all creation….”
Peristiwa bersejarah adalah ketika Marley berhasil mendamaikan konflik yang terjadi di Jamaika antara Perdana Menteri Michael Manley dan oposisi Edwar Seaga.
Anak muda Jamaika memandang Marley seorang ”utusan” yang bisa menengahi mereka. Film ini memperlihatkan cuplikan penting Marley di antara kedua tokoh politik itu.
Salah satu bagian film yang paling menarik adalah saat Marley memperlihatkan sikap terhadap mariyuana. Marley memproklamasikan mengisap ganja adalah sakramen bagi kaum Rastafaria. Film ini memperlihatkan cuplikan wawancara seorang wartawati televisi London yang mencecar Marley.
”Anda bertanggung jawab atas penyelundupan mariyuana dari Jamaika ke Amerika.”
Marley hanya mengangkat bahunya, menyunggingkan senyum. Terlihat susah menjawab. ”Bukan persoalan Tuhan melarang,” katanya. Film ini lalu memperlihatkan bagaimana di Jamaika terdapat tradisi turun temurun—masyarakat berkumpul, berbagi ganja bersama dari pipa panjang, mengembuskan asap tebal.
Marley mati pada usia 35 karena kanker. Menurut wartawan The Rolling Stone, Tony Calder, saat itu Marley menolak operasi. ”Ia tahu akan kematiannya. Jari kaki Marley seharusnya diamputasi, tapi Marley menolak. Menurut pandangan Rastafari, bila seseorang mati, tubuhnya harus lengkap, agar utuh dalam kebangkitan nanti. Di New York, seminggu sebelum wafatnya, Marley toh bersedia dibaptis dalam agama Katolik Ethiopia Ortodoks.
Di pemakamannya, Rita Marley dan anakanaknya berjoget di panggung. Para biarawan Katolik Ethiopia Ortodoks berjajar takzim. Injil dan gitar kesayangannya ikut dikuburkan. Setelah kematiannya, Marley semakin menjadi legenda dan komunitas Rastafari tumbuh di manamana. Bahkan di kotakota yang tak terbayangkan olehnya. Misalnya di Purwokerto, Yogya, dan kotakota lainnya, meski itu semua dinikmati tanpa ”keimanan” terhadap Sellassie.
Selasa, 06 Mei 2008
true story bob marley
Reggae jadi mendunia gara-gara satu orang yang bernama Bob Marley. Duta besar regage, gitu banyak orang ngasih label buat Bob Marley, cowok yang lahir pada 6 Februari 1945 di St. Ann's Parish dan besar di lingkungan miskin di Trenchtown, Jamaika. Dari tangan cowok blasteran ini lahirlah hits klasik seperti No Woman No Cry, I Shot the Sheriff, dan Waiting in Vain.
Karier profesional dimulai pas Bob masih remaja berusia 16an, bersama dua temannya, Bunny Livingston dan Peter McIntosh (Peter Tosh). Ia pertama kali rekaman pada tahun 1962, bersama The Teenagers atau yang juga dikenal sebagai The Wailing Rudeboys. Ia lalu membentuk band sendiri, The Wailers. Tahun 1966, setelah menikahi Rita Anderson, Bob pindah ke Amerika Serikat. Tapi kepindahan Bob ke Amerika Serikat nggak lama, karena nggak betah, Bob mutusin untuk pulang dan memilih untuk nyempurnain lagu yang ditulisnya. Tahun 1973 bareng Island Records, Bob ngerekam dan ngerilis Catch a Fire.
Saking sibuknya, Bob bahkan tak mempedulikan kanker yang ditemukan dalam pemeriksaan dokter di tahun 1977. Sayangnya karena ngga' diobati, tanggal 11 Mei 1981, Bob meninggal. Sekitar delapan bulan sebelumnya Bob pernah terjatuh di Central Park, New York, waktu lagi asik jogging. Tim dokter memastikan bahwa kanker yang mula-mula hanya ada di kaki sudah menjalar ke mana-mana, mulai dari ke otak, paru-paru, bahkan sampai ke liver.
Karier profesional dimulai pas Bob masih remaja berusia 16an, bersama dua temannya, Bunny Livingston dan Peter McIntosh (Peter Tosh). Ia pertama kali rekaman pada tahun 1962, bersama The Teenagers atau yang juga dikenal sebagai The Wailing Rudeboys. Ia lalu membentuk band sendiri, The Wailers. Tahun 1966, setelah menikahi Rita Anderson, Bob pindah ke Amerika Serikat. Tapi kepindahan Bob ke Amerika Serikat nggak lama, karena nggak betah, Bob mutusin untuk pulang dan memilih untuk nyempurnain lagu yang ditulisnya. Tahun 1973 bareng Island Records, Bob ngerekam dan ngerilis Catch a Fire.
Album inilah yang menyebarkan demam Reggae ke seluruh dunia. Pada saat itu Bob mampu memberikan pilihan baru kepada penggemar rock, dalam reggae Bob Marley menghadirkan kepercayaan diri, pemberontakan, dan keadilan. Sampai tahun 1979, Bob jadi orang super sibuk karena turnya laku digelar di seluruh penjuru dunia dan juga di Madison Square Garden, venue yang waktu itu jadi barometer buat popularitas seorang artis kelas dunia.
Saking sibuknya, Bob bahkan tak mempedulikan kanker yang ditemukan dalam pemeriksaan dokter di tahun 1977. Sayangnya karena ngga' diobati, tanggal 11 Mei 1981, Bob meninggal. Sekitar delapan bulan sebelumnya Bob pernah terjatuh di Central Park, New York, waktu lagi asik jogging. Tim dokter memastikan bahwa kanker yang mula-mula hanya ada di kaki sudah menjalar ke mana-mana, mulai dari ke otak, paru-paru, bahkan sampai ke liver.
Langganan:
Postingan (Atom)








